Kejahatan Pasar Modal
(Tindak Pidana Manipulasi Pasar)

Pasar Modal hanya akan dapat berkembang bila terjadi suatu mekanisme perdagangan bebas dimana supply dan demand berjalan selama alami. Hal ini berarti harus ada banyak perusahaan yang memerlukan external financing untuk memperluas usahanya, dan tersedia pemiliki dana yang yang memilki dana jangka panjang untuk dikelola kepada pihak yang yang memerlukan dana dengan mengharapkan keuntungan sesuai dengan besarnya risiko investasi. Walaupun begitu, agar pasar modal dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan berbagai lembaga, profesi, dan peraturan untuk mendukung perkembangan tersebut.

Didalam suatu masyarakat pasti ada hukum yang mengaturnya, Ius Societas Ius Ubi. Hukum yang dimaksud disini tentu saja hukum tertulis yaitu peraturan perundang-undangan yang bersifat mengikat dan memaksa. Dalam kaitanya dengan Pasar Modal , terdapat suatu Undang-Undang Pasar Modal (UUPM), yaitu UU No.12 Tahun 1995 yang mengatur segala sesuatu mengenai aktivitas pasar modal. Salah satu tujuan dibentujnya UU Pasar Modal adalah untuk mendukung agar Pasar Modal dapat berkembang dengan baik, yaitu bila supply dan demand dana jangka panjang dalam jumlah yang cukup dan yang salah satu fungsi utama UUPM adalah untuk menunjukkan aturan-aturan main bagi para pelaku pasar. Undang-undang yang kemudian dilengkapi berbagai peraturan pemerintah dan keputusan pada level yang lebih bawah, mencoba mengatur masalah tersebut. Namun keberadaan Undang-Undang itu tidaklah mencukupi tanpa disertai dengan penegakan Undang-Undang tersebut. Di berbagai negara yang sedang berkembang, masalah penegakan hukum inilah yang sering menjadi perhatian berbagai lembaga internasional.

Walaupun pada prinsipnya mekanisme pasar modal di setiap negara selalu sama, yaitu merupakan jual-beli dana jangka panjang, setiap pasar modal mungkin mempunyai kekhususan tersendiri. Sebagai misal, pasar modal di negara-negara yang sedang berkembang pada umumnya mempunyai karakteristik relatif kecil, dengan perdagangan yang relatif tipis dan banyak saham-saham yang kurang aktif diperdagangkan.

Khusus di Indonesia, salah satu karakterstik pasar modal yang spesifik adalah, bahwa para pemodal publik umumnya hanya memiliki sejumlah kecil saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Jumlah emiten relatif terbatas dan tidak semua saham aktif diperdagangkan. Sementara saham-saham yang aktif diperdagangkan, pembentukan harganya sangat mendekati harga yang wajar. Saham-saham yang tidak aktif diperdagangkan akan lebih rendah tingkat kewajarannya. Perdagangan yang relatif tipis ini lebih memudahkan (sebagian) pelaku pasar untuk mempengaruhi harga.

Karakteristik spesifik lain adalah, perusahaan yang terdaftar di bursa pada umumnya masih dikendalikan oleh (keluarga) pendiri. Pendiri merupakan controlling dan public merupakan minority shareholders. Dari sisi corporate governance, situasi ini membuka peluang yang sangat besar untuk terjadi konflik di antara kedua kelompok pemegang saham tersebut. Konflik kepentingan akan menjadi semakin nyata kalau controlling shareholders juga mempunyai perusahaan-perusahaan lain dalam satu grup (konglomerat). Dalam situasi seperti ini kemungkinan self-dealing menjadi semakin nyata. Akhir-akhir ini pemerintah membuat peraturan-peraturan yang menekankan adanya pelepasan jumlah saham yang lebih banyak kepada masyarakat agar masyarakat turut ikut serta menikmati investasi.

Pertumbuhan dan perkembangan kegiatan pasar modal yang pesat dan semakin rumit, membuat diperlukannya suatu perangkat hukum yang mengatur sangat dibutuhkan agar pasar tesebut menjadi adil, bermanfaat dan memiliki kepastian hukum. Sehingga kemudian lahir Hukum Pasar Modal (Capital Market Law) yang pada prinsipnya mengatur segala segi yang berkenaan dengan pasar modal. Antara lain:
1. Pengaturan tentang perusahaan, misalnya:
a.Disclosure requirement
b.Perlindungan pemegang saham minoritas.
2.Tentang surat berharga pasar modal.
3.Pengaturan tentang administrasi pelaksanaan pasar modal, yaitu meliputi:
a.tentang perusahaan yang menawarkan suarat berharga
b.tentang profesi dalam pasar modal
c.tentang perdagangan surat berharga

Pasar modal Indonesia merupakan integrasi dari pelbagai macam kegiatan yang melibatkan banyak pihak . Pihak-pihak tersebut meliputi perusahaan/Emiten sebagai pihak yang membutuhkan modal, investor sebagai pihak yang menanamkan modal, dan perusahaan efek yang sebagai intermediary, baik antara investor dengan emiten maupun antar investor. Terdapat pula pihak yang yang merupakan fasilitator yaitu Bursa Efek, Lembaga Kliring, dan Penjamiminan , Lembaga Penyimpanan, dan penyedia jasa bagi kegatan di pasar modal.

Disamping banyaknya pihak yang terkait, kegiatan di pasar modal juga sangat beragam seperti : penerbitan efek, transaksi efek, dan berbagai corporate action yang dilakukan oleh Emiten. Mengingat banyaknya pelaku, dan kompleksitasnya kegiatan di pasar mdoal seperti: manipulasi pasar, insider trading, dan perdangan semu, sangat tinggi. Pembahasan akan difokuskan pada kejahatan pasar modal khusunya tindakan penipuan dan manipulasi pasar

Tindak pidana Manipulasi Pasar

Pasar Modal rawan penipuan dan manpulasi. Kiat-kiat dalam perdagangan saham banyak ragamnya, namun tidak semua kiat yang bertendensi negatif dapat terdeteksi oleh hukum walaupun banyak peraturan di pasar modal suda tergolong baik. Di pasar modal Indonsia dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI) , beberapa tindakan penipuan dan manipulasi pasar pernah terdeteksi, tetapi tidak semua pelaku dapat tertangkap. Bahkan jika tidak berhati-hati, dapat juga terjadi sanksi dijatuhkan kepadapihak yang sebenarnya tidak tidak bersalah.Sehingga perlu adanya penafsiran dari ketentuan pasar modal yang ada saat ini, yang lebbih kondusif terhadap keadilan, ketertiban, efektif namun juga dengan tetap memilki unsure kepastian hukum.

Selain dari tindak pidana insider trading, maka perbuatan lainnya yang dapat dikenakan ancaman pidana oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 adalah tindak pidana “penipuan” di pasar modal dan tindak pidana “manipulasi pasar”. Perbedaan antara tindakan penipuan dan manipulasi pasar terletak pada akibat dari perbuatan tersebut. Jika manipulasi pasar yang dilakukan sudah jelas akan termanipulasi sehingga akibatnya antara lain , bahwa harga saham menjadi semu. Sementara itu, jika tindakan penipuan yang dilakukan , maka dengan informasi atau keadaan yang tidak sebenarnya tersebut, jelas akan ada pihak yang dirugikan, karena informasi yang diberikan palsu , tanpa membuat pasar termanipulasi.

UU No.8 Tahun 1995 mensejajarkan kedua jenis tindak pidana tersebut diatas, dengan memberikan ancaman pidana yang sama beratnya , yakni ancaman pidana maksimum 10 tahun penjara dan denda maksium Rp. 15.000.000.000,-(lima belas milyar rupiah)

Beberapa macam tindakan yang dapat digolongkan dalam tindak pidana manipulasi pasar menurut pasal 91 dan 92 UU No.8 Tahun 1995 yaitu:
a. Menciptakan gambaran pasar modal yang semu. Antara lain dengan jalan:
(1) Melakukan transaksi efek yang tidak mengakibatkan perubahan pemikiran, atau
(2) Melakukan penawaran jual atau penawaran beli efek pada harga tertentu, sedangkan pihak lain yang merupakan persengkongkolannya juga melakukan penawaran beli atau penawaran jual pada harga yang kurang lebih sama.
b. Melakukan dua atau lebih transaksi efek di Bursa Efek sehingga menyebabkan harga efek menjadi tetap , naik atau turun, dengan tujuan agar pihak lain terpengaruh untuk membeli , menjual atau menahan efek tersebut. Akibatnya,harga efek tersebut tidak berdasarkan pada permintaan jual atau beli yang sesungguhnya.
c. Membuat pernyataan atau member keterangan yang secara material tidak benar, yang dapat mempegaruhi harga dengan tujuan untuk mempengaruhi pihak lain untuk membeli atau menjual efek.

Perlu mendapatkan perhatian, bahwa dalam tindakan manipulasi pasar jika dikatakan menjual atau mengalihkan saham, hendaknya ditafsirkan bukan hanya dalam pengertian konvensional tetapi termasuk juga tampilan-tampilan barunya. Seperti share swap, pertukaran saham karena tindakan merger, pelaksanaan opsi saham dengan mengkonversi right,dan lain-lain. Ini yang disebut pragmatic trend.

Yang sering menjadi masalah kontroversial di pasar modal adalah, masalah harga efek yang sengaja distabilkan (stabilization). Dalam hal ini, suatu efek dibeli hanya dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penurunan harga di pasar terbuka. Misalnya : efek di pasar perdana dibeli oleh sindikasi dari investment bank kemudian tidak berapa lama setelah itu dijual kembali kepada public dengan harga yang lebih tinggi. Dalam hal ini, efek di pasar perdana dibeli oleh sindikasi underwriting, yang bahkan berjumlah sampai lebih dari seratus perusahaan underwriting.

Dalam dunia pasar modal, siapa saja yang membeli efek di di pasar perdana untuk kemudian segera menjual kembali dengan harapan mendapatkan keuntungan disebut Free Riders. Secara sepintas, seakan memang ada juga manfaat dari tindakan stabilisasi harga ini yaitu:
a. Ada unsur kepastian harga bagi emiten.
b. Pembayaran dari pihak underwriter kepada pihak emiten dapat dilakukan lebih cepat,karena pihak underwriter lebih cepat mendapatkan uang harga saham
c. Dapat menetralisir harga di pasar dari gejolak akibat adanya over supply oleh pengisuan saham yang bersangkutan.
d. Jika market sedang bulish (menunjukkan gejala meningkat), maka dengan tindakan stabilisasi harga tersebut tidak merubah pasar yang sedang bulish tersebut.

Namun tentu suatu pasar yang menginginkan suatu harga yang layak yang biasanya ditentukan oleh kebebasan pasar berdasarkan hukum permintaan dan penawaran (the law of supply and demand). Dan harga yang layak seperti ini terancam dengan adanya tindakan stabilisasi harga tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa stabilisasi harga tersebut sebenarnya juga merupakan tindakan manipulasi pasar.

Dalam hal seperti ini, maka pihak investor misleading (yang menyesatkan) dan karenanya dapat juga misjudgement(salah menilai) yang menyangka harga suatu efek merupakan harga normal (harga pasar) padahal sebenarnya merupakan harga yang sengaja dibentuk atau ditetapkan. Karena terbentuklah apa yang disebut sebagai deceptive and artificial market (pengelabuan dan pasar buatan /palsu) secara overpricing (harga yang berlebihan)

Salah satu contoh dari kasus manipulasi harga yang terjadi menyangkut saham PT great River Internasional, Tbk. Kasus transaksi perdagangan saham Great river itu sendiri bermula dari adanya kecurigaan transaksi perdagangan saham PT Great River Internasional Tbk oleh BEJ. Periode transaksi yang dicurigai sejak 5 Februari 2004 hingga 18 Mei 2004. Dari hasil pemeriksaan pada menit terakhir perdagangan sehingga menyebabkan harga saham perseroan naik dari Rp 345,- per lembar menjadi Rp 430,- per lembar. Berdasarkan BEJ ini diketahui terdapat 81 kali transaksi beli yang mengakibatkan harga naik. Transaksi itu dilakukan melalui sembilan anggota bursa dengan dua broker yang sangat mendominasi perdagangan menurut data itu adalah PT Nikko Securites Indonesia dan PT Ciptamahardika Mandiri. Nilai transaksi kedua broker ini mecapai 90% dari total transaksi ketika itu atau terkesan adanya transaksi marking the close. Dari pemeriksaan ini pula diketahui ada dua nasabah yang melakukan transaksi, sehingga mendominasi transaksi perdagangan melalui Nikko dan Ciptamahardika. Adapun nasabah itu menurut hasil pemeriksaan BEJ adalah emlibatkan PT Kali Besar Asri dan Ludvina Agustina.

Kasus yang lainnya melibatkan kasus manipulsi atas perdagangan saham PT Dharma Samudera Fishing Tbk (DSFI), dengan cara melakukan transaksi tanpa menyebabkan terjadinya perubahan atas kepemilikan saham. Kasus ini bermula setelah adanya perdagangan saham PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk periode bulan Agustus 2002 yang tidak menyebabkan perubahan kepemilikan atas transaksi saham dimaksud, dan penyalahgunaan dana serta Efek nasabah. Berkaitan dengan hal tersebut Bapepam telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa Pihak yang diduga terlibat dan melakukan penelahaan atas dokumen yang berkaitan dengan transaksi tersebut, dengan hasil Beberapa Pihak secara bersama-sama telah terbukti melakukan perubahan kepemilikan atas saham tersebut. Tindakan tersebut dikategorikan sebagai tindakan manipulasi pasar yang melanggar Pasal 91 dan Pasal 92 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Untuk memperlancar manipulasi beberapa Perusahaan Efek lainnya memfasilitasi dan membantu nasabah dalam melakukan transaksi saham DSFI yang emngakibatkan terjadinya manipualsi pasar. Hal ini melanggar Pasal 91 dan 92 Undang-Undnag Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Contoh manipulasi pasar yang pernah ditangani BAPEPAM lainnya dilakukan dalam transaksi yang melibatkan saham PT Mas Murni Tbk (MAMI). Sayangnya dalam transaksi saham MAMI ini BAPEPAM tidak menjelaskan bagaimana transaksi tersebut sehingga terjai manipulasi. Padahal dengan mengetahui pola yang dilakukan akan memberikan gambaran bagaimana kejahatan ini dilakukan sehingga memudahkan orang untuk mengetahui dan menyelidikinya. Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh BAPEPAM mengenai transaksi atas saham MAMI tersebut adalah sebagi berikut:
a. Sdr. James RACHMAR Subekti telah melakukan transaksi saham MAMI tanggal 20 April 2000 baik secara langsung maupun tidak alngsung yang menciptakan gambaran semu dan atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di Bursa Efek Jakarta sehhingga menyebabkan kenaikan harga saham MAMI yang tidak wajar.
b. PT Namalatu Ronesina telah melakukan transaksi saham MAMI berdasarkan perintah ansabah, dimana PT Namalatu Ronesina tidak cukup hati-hati dalam melaksanakan order nasabah sehingga transaksi tersebut menciptakan gambaran semu.
c. PT Intifikasa Securindo telah melakukan transaksi saham MAMI berdasarkan perintah nasabah, diamna PT Intifikasa Securindo tidak cukup hati-hati dalam melaksanakan order nasabah sehingga transaksi tersebut menciptakan gambaran semu. Seklain kedua perusahaan efek tersebut dalam transaksi atas saham MAMI ini BAPEPAM juga melakukan pemeriksaan atas sembilan perusahaan efek lainnya yang diduga terlibat dalam transaksi tersebut.

Meskipun pada dasarnya manipulasi harga atas manipulasi pasar dilarang, tetapi dalam situasi tertentu pengecualian atas tindakan ini dapat dilaukan, misalnya dalam rangka stabilisasi harga . Untuk ini Ketua Bapepam dalam Keputusannya Nomor Kep-88/PM/1996 tentang stabilitas harga menyatakan bahwa penjamin efek atau perantara pedagang efek yang berperan dalam penawaran umum, dierkenankan selama masa penawaran umum untuk membeli atau menjual efek dengan tujuan mempertahankan harga pasar efek yang ebrsangkutan pada bursa. Stabilisasi ini dilakukan pada hari-hari pertama suatu efek pertama kali diperdagangkan di bursa (seetlah saham hasil penawaran umum tercatat di bursa). Keputusan ketua BAPEPAM ini juga menentukan syarat-syarat dilakukannya stabilisasi harga tersebut dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Harga stabilisasi tidak berbeda dengan harga penawaran umum.
b. Stabilisasi harga hanya berjalan selama masa penawaran dan tidak dapat diperpanjang.
c. Rencana mengadakan stabilisasi harga harus diungkapkan dalam prospectus.
d. Penjamin emisi efek atau perantara pedagang efek yang menjual atau membeli untuk kepentingan setiap pihak, efek yang harganya distabilisasi, harus memastikan bahwa pihak tersebut telah mendapatkan kesempatan untuk membaca pernyataan tertulis bahwa pembelian itu pada harga yang distabilisasikan.
e. Pemberitahuan oleh penjamin pelaksana emisi efek kepada Bapepam, semua agen penjualan dan pemodal tentang tanggal mulai dan berakhirnya stabilisasi harga yang bersangkutan.

Kiat-Kiat Bisnis Yang Menjurus Ke Arah Manipulasi Pasar
Dalam perkembangan setiap pasar modal, banyak tindakan-tindakan bisinis dilakukan diantaranya potensial untuk menjadi tindakan penipuan dan manipulasi pasar :
a. Insider Trading Berbahaya Bagi Mekanisme Pasar Yang Fair dan Efisien

Jika suatu insider trading tidak dilarang, maka berjalannya pasar modal akan terhambat dan tersendat-sendat, yang disebabkan karena:
1) Pembentukan Harga Yang Tidak Fair ( Teori Informed Market)
Jika ada Insider trading, akan tidak terbentuk harga yang afir karena kurangnya informasi tenang keadaan barang yang sebenarnya. Padahal harga yang fair itu merupakan sinyal yang akurat mengenai jumlah sumber daya yang perlu dialokasi.
2) Perlakuan Yang Tidak Adil Di Antara Para Pelaku Pasar (Teori Market Egalitiarism atau Fair Play)
Suatu pasar yang baik adalah pasar di mana semua anggota pasar diperlakukan secara sama dan adil. Dan di pasar modal semua pelaku berhak atas informasi yang sama. Sedangkan dengan adanya insider trading maka hanya sebagian kecila atau bahkan satu orang saja yang mempunyai informasi tertentu.
3) Berbahaya bagi Kelangsungan Hidup Pasar Modal
Jika keadaan apsar tidak fair, akan banyak orang meninggalkan pasar modal yang ebrsangkutan untuk beralih ke pasar modal di negara lain atau jenis-jenis investasi lainnya. Maka dengan demikian, eksistensi pasar modal yang bersangkutan akan terancam.

b. Insider Trading Juga Berdampak Negatif Bagi Emiten

Dengan adanya insider trading, pihak investor akan hilang kepercayaannya terhadap emiten itu sendiri. Dan nama baik investor akan jatuh sehingga akan sulitbaginya untuk berkembang atau menambah permodalan selanjutnya. Bahkan mungkin saja pihak pelaku insider trading tersebut berbuat hal-hal yang mengambil keuntungan dari situ. Padahal keuntungan tersebut dapat digolongkan sebagai Unjust Enrichment (memperkaya diri secara tidak sah dengan memiliki apa yang bukan haknya).

c. Kerugian Materiil Bagi Investor.
Dengan terjadinya perbuatan yang dapat digolongkan ke dalam insider trading ini, maka pihak investor akan mengalami kerugian secara langsung. Mungkin ia telah membeli surat berharga dengan harga yang sangat mahal, atau menjualnya dengan harga yang sangat murah. Bahkan investor dapat dikatakan telah dikhinati atau ditipu oleh pihak insider trader tersebut. Padahal, perlindungan public (investor) selalumenjai focus inti dari pengaturan hukum di bidanng pasar modal.

d. Kerahasiaan itu Miliknya Perusahaan (Teori Business Property)
Informasi rahasia itu miliknya perusahaan sesuai dengan asas pengakuan hak mliki intelektual. Karenanya, maka tidak pada tempatnya apabila milik perusahaan tersebut dimanfaatkan oleh pihak lain selain perusahaan itu sendiri.