PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA

Perceraian atau talak dikenal juga dengan istilah gugat cerai adalah pemutusan hubungan suami-istri dari hubungan pernikahan atau perkawinan yang sah menurut syariah Islam dan/atau sah menurut syariah dan Negara (Kompilasi Hukum Islam/KHI).

Berdasarkan Pasal 114 KHI “Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.” Yang dimaksud tentang talak, menurut Pasal 117 KHI adalah ikrar suami di hadapan Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan. Sedangkan Gugat Cerai menurut Pasal 132 KHI yaitu perceraian yang dilakukan oleh istri kepada suami.

CERAI TALAK OLEH SUAMI
Talak yaitu perceraian yang dilakukan oleh suami kepada istri. Talak atau gugat cerai yang dilakukan oleh suami terdiri dari 4 (empat) macam, yaitu:
1. Talak raj’I diatur dalam Pasal 118 KHI yaitu perceraian di mana suami mengucapkan (melafazkan) talak satu atau talak dua kepada isterinya. Suami boleh rujuk kembali ke isterinya ketika masih dalam iddah. Jika waktu iddah telah habis, maka suami tidak dibenarkan merujuk melainkan dengan akad nikah baru.
2. Talak bain diatur dalam Pasal 119 – pasal 120 KHI yaitu perceraian di mana suami mengucapkan talak tiga atau melafazkan talak yang ketiga kepada isterinya.
3. Talak sunni diatur dalam pasal 121 KHI yaitu perceraian di mana suami mengucapkan cerai talak kepada isterinya yang masih suci dan belum disetubuhinya ketika dalam keadaan suci
4. Talak bid’I diatur dalam Pasal 122 yaitu Suami mengucapkan talak kepada isterinya ketika dalam keadaan haid atau ketika suci tapi sudah disetubuhi (berhubungan intim).

Cara mengajukan talak diatur dalam Pasal 129 – Pasal 131 KHI berbunyi:
Pasal 129 KHI:
Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.

Sedangkan, mengenai cerai karena talak yang diucapkan suami di luar Pengadilan Agama, menurut Nasrulloh Nasution, S.H hanya sah menurut hukum agama saja, tetapi tidak sah menurut hukum yang berlaku di negara Indonesia karena tidak dilakukan di Pengadilan Agama. Menurut Nasrulloh, akibat dari talak yang dilakukan di luar pengadilan adalah ikatan perkawinan antara suami-istri tersebut belum putus secara hukum. Pendapat Nasrulloh Nasution ini adalah berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 115 KHI serta sesuai dengan ketentuan Pasal 39 ayat (1) UU Perkawinan yang menyebutkan “bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

 

Jika Anda membutuhkan bantuan dalam penyelesaian perkara Perceraian di Pengadilan Agama dapat menghubungi Pengacara handal mampu memberi solusi terbaik. Salah satu nya dapat anda temukan pada Lawfirm Zeto & Associates sebagai salah satu Lawfirm di Jakarta yang berpengalaman.

 

 

Zeto & Associates – Lawyers

Receiver-Administrator for Bankruptcy

Gedung Jaya Lantai 2 Ruang 207

JL. MH. Thamrin Kav. 12 Jakarta 10340

Mobile: +62 81 777 88 63

Email: zetobachri@zetolawyer.com